• Jelajahi

    Copyright © croscek.com
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Di Balik Langkah Sunyi Heri Amalindo Menuju PSI

    Rabu, 28 Januari 2026, 09:41 WIB
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    Ketua DPW PSI Sumsel. H.Heri Amalindo

    Oleh: Iwan S Gempo


    PALEMBANG.CROSCEK.com - Sore itu di kantor Sekretariat Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PSI Sumatera Selatan, Palembang, Selasa(27/01/2026). Heri menyampaikan alasan keputusannya kepada jurnalis dengan nada tenang. 


    Keputusan itu tidak diumumkan dengan sorak atau pernyataan keras. Heri Amalindo memilih berjalan dalam senyap, meninggalkan rumah lama yang telah membentuk perjalanan politiknya, lalu menata harapan baru dengan kesadaran penuh.


    Langkah menuju Partai Solidaritas Indonesia (PSI) diakuinya bukan lahir dari kegaduhan politik, melainkan dari perenungan seorang politisi yang memahami pengabdian sejati kerap menuntut keberanian untuk berubah, bukan demi meninggalkan masa lalu, tetapi untuk menemukan ruang tumbuh yang lebih bermakna.


    Mantan Bupati Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) tersebut tidak berbicara ambisi jabatan atau target jangka pendek, melainkan tentang proses panjang yang mengantarkannya pada pilihan politik yang baru.


    Bergabungnya Heri dengan PSI, partai yang dipimpin Kaesang Pangarep ini,  dan memiliki Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, sebagai Ketua Dewan Pembinanya, sekaligus menandai berakhirnya kiprah politiknya di PDI Perjuangan. Sebuah rumah politik yang telah membesarkan namanya selama ini.


    “Ini bukan soal meninggalkan atau loncat pagar",  ujar Heri ketika berbincang. Selasa (27/01/2026)


    "Ini tentang bagaimana saya tetap bisa aktif dan berkembang dalam dunia politik.” ungkapnya


    Heri menyadari betul, PDIP merupakan partai besar dengan struktur kuat dan kader-kader berpengalaman. Namun di balik kebesaran itu, ruang kompetisi menjadi semakin sempit. Bagi Heri, politik bukan sekadar bertahan di zona nyaman, melainkan tentang mencari ruang untuk terus berkontribusi dan memberi arti.


    “Di rumah besar dengan banyak orang hebat, tentu tidak mudah bersaing. Saya melihat peluang untuk berprestasi, berkembang, dan beraktivitas itu justru ada di PSI,” katanya.


    Ia menilai, perbedaan antar partai politik bukanlah jurang yang harus dipertentangkan. Setiap partai memiliki karakter dan pendekatan masing-masing, namun tujuan akhirnya tetap sama, yakni memperjuangkan kepentingan masyarakat.


    Kini, sebagai Ketua DPW PSI Sumsel, Heri memikul tanggung jawab baru. Ia tidak langsung berbicara tentang target kursi legislatif atau kekuasaan eksekutif. 


    Fokus utamanya saat ini adalah membangun fondasi partai melalui penguatan struktur hingga ke tingkat kelurahan dan desa di seluruh Sumatera Selatan.


    “Tahun pertama ini kami fokus pada penguatan internal. Dari DPW, DPD kabupaten/kota, DPC, hingga ranting. Kalau fondasinya kuat, target politik akan mengikuti,” tuturnya.


    Keputusan meninggalkan PDIP juga dimaknainya sebagai proses yang wajar dalam perjalanan politik. Dengan bergabung ke PSI, Heri menegaskan dirinya otomatis tidak lagi menjadi kader PDIP. Meski demikian, rasa hormat terhadap partai lama tetap ia jaga.


    “PDIP itu seperti sekolah. Saya dibesarkan, dibimbing, dan ditempa secara politik di sana. Itu tidak akan saya lupakan,” ucapnya. Ia pun memastikan Kartu Tanda Anggota (KTA) PDIP akan dikembalikan agar tidak disalahgunakan.


    Di balik langkah politiknya, sosok Joko Widodo menjadi salah satu faktor yang menguatkan keyakinannya. Bagi Heri, figur pembina partai mencerminkan arah dan nilai yang ingin diperjuangkan sebuah organisasi politik.


    “Kalau kita mau masuk sekolah, tentu kita lihat kepala sekolahnya. Pak Jokowi menjadi daya tarik tersendiri, dan itu menambah keyakinan saya untuk bergabung,” ungkapnya.


    Dalam kepengurusan PSI Sumsel yang kini ia pimpin, Heri memilih jalan kolaborasi. Pengurus lama dan baru dirangkul bersama. Saat ini, pembentukan struktur kepengurusan telah mencapai sekitar 80 persen, sementara sisanya tinggal menunggu pengesahan surat keputusan di sejumlah daerah, seperti Empat Lawang dan Muara Enim.


    Agenda terdekat pun telah menanti. Akhir Januari ini, PSI akan menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Makassar, Sulawesi Selatan. Dari forum tersebut, Heri berharap lahir program-program kerakyatan yang tidak berhenti di tingkat wacana, tetapi benar-benar dirasakan masyarakat di daerah.


    “Politik itu proses, bukan sesuatu yang instan. Loyalitas dibangun dari kerja nyata,” ujarnya.


    Di balik dinamika politik yang kerap riuh, Heri Amalindo memilih jalan yang lebih tenang. Ia melangkah tanpa gaduh, meninggalkan rumah lama dengan rasa hormat, sembari menata harapan baru di ruang politik yang ia yakini. 


    Baginya, politik bukan sekadar soal berpindah tempat, tetapi tentang keberanian menyesuaikan diri dengan perubahan, tanpa kehilangan nilai yang membentuk perjalanan hidupnya.


    Langkah sunyi itu kini menjadi titik awal. Sebuah babak baru yang tidak hanya tentang Partai Solidaritas Indonesia, tetapi tentang keyakinan seorang Heri Amalindo bahwa pengabdian sejati selalu menuntut keberanian untuk berubah, untuk bertumbuh, dan untuk tetap setia pada tujuan melayani masyarakat.(*)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini